Menjadi Muslim (?)
Pada akhirnya identitas tidak lagi penting. Setidaknya bagi saya dalam perjalanan pulang dari Gambir seminggu yang lalu. Di dalam bus kota yang lenggang itu, di mana “ruang publik” dan “ruang privat” tidak lagi jelas batasannya, tiba-tiba hadir seorang lelaki setengah baya. Sambil membagikan stiker bergambar kaligrafi nama Allah dan Muhammad, ia mulai berorasi tentang banyak hal yang menjengkelkan: “Awas kristenisasi!”, “Awas bahaya liberalisasi!”, “Awas propaganda Barat dan Yahudi!”, dan masih banyak “Awas!” yang lainnya. Saya tak habis pikir bagaimana jika ada seorang Kristen, atau kaum liberal, atau seorang Yahudi di dalam bus tersebut. Tapi tampaknya pria itu tak peduli. Agitasi terus berjalan, dan kejengkelan saya membuncah.
“Stiker ini hanya akan saya bagikan untuk umat muslim. Bagi yang bukan muslim, harap konfirmasi pada saya”, kata pria itu pada akhirnya. Mungkin itu upayanya yang paling maksimal untuk bersikap sopan. Saya pikir itu sia-sia. Seorang mahasiswa yang duduk di sebelah saya (dia memakai kaus bertuliskan “Jesus die for you”) sudah tampak kesal setengah mati. Stiker-stiker itu pun diedarkan. Banyak yang menerimanya dengan senang hati, sebagian kecil yang lain menolak lewat konfirmasi “bukan islam” dan mengangkat tangan dengan sopan. Ketika akhirnya pria itu sampai ke tempat saya duduk, saya menolak stikernya sambil berkata: “bukan islam”.
Seorang teman kaget ketika saya ceritakan pengalaman di atas. Dia bilang saya telah kafir. Betulkah? Apa itu ”kafir”? Apa itu menjadi Islam, atau apa itu menjadi bukan Islam? Dan kenapa identitas keislaman menjadi begitu penting?
Pertanyaan tersebut bukan sebuah pertanyaan ”gawat” menurut saya, walaupun bukan pula pertanyaan sederhana. Jujur saja, sampai saat ini saya belum menemukan pentingnya menjadi Islam atau menjadi bukan Islam. Saya kira percuma saja ”keislaman” saya jika hanya menjadi sebuah tanda pengenal yang membedakan saya dengan ”kristen”, ”budhis”, ”marxis”, dan lain-lain. Apa pentingnya itu semua?
Pertanyaan tersebut harus saya ajukan, dan akan terus begitu sampai saya mendapat jawaban yang pasti. Ada yang membuat saya tidak bisa melepaskan secara penuh identitas ”keislaman” tersebut. Entah apa.
Yang pasti, menjadi islam atau menjadi bukan islam itu problematis. Dan proses menuju di antara keduanya adalah proses yang mengasyikkan. Setidaknya buat saya pribadi…
asalamualaikum wr.wb… saudaraku yang dimuliakan ALLAH, setelah membaca tulisan kamu aku tak menyadari air mataku bersimbah dipipi.. begitu terkejut nya aku membaca teriakan hatimu ,risau rasa hati ini melihat mirisnya pikirmu tentang muslim, tentang ALLAH tentunya, sehingga aku terpanggil untuk sedikit bersua padamu.
kasus yang menimpa kamu di bus tersebut sesungguhnya itu semata – mata bukan karena islam, tapi itu adalah ebagian orang – orang islam,dan tidak semua dari mereka seperti itu, jangn karena sikap 1 org kemudian membuatmu membnci secara univrsal. stiap agama memiliki pnganut dan kamu seharusnya tahu bahwa apa islam itu, agar kamu sendiri dapat mengaplikasikannya.
coba saya paparkan wahai saudaraku… hari ini orang mengatakan bahwa shalat adalah agama, mengaji adalah agama, padahal konsep agama bukan hanya itu saja. ibarat sebuah pohon agama terdiri dari 5 hal pokok, yang menjadi akarnya adalah iman, mulailah tingkatkan keimanan, bukan sekedar percaya tapi merenunggi kepercayaan itu..kamu mengatakan sampai sekarang ada hal yang kamu gak tau itu apa, sehingga kamu gak bisa meninggalkan identitas keislaman, tanpa kamu sadari sesungguhnya itu adalah iman, tahukah kamu saudaraku walaupun iman kita sekecil biji zahra kepada ALLAH SWT maka kamu akan tetap masuk surga, iNsyah ALLAH. namun iman saja tidak mencukupi, harus ada shalat, dzikir, dan ibadah lainnya yang ibarat batang tugasnya memperkokoh adanya agama, lalu cabang dan ranting adalah Muasyarah dan Muamallah, yakni bagaimana menjaga hubungan kamu dgn yang non muslim, dgn teman, dengan org yang lebih tua, guru dan semua sifat hablumminanas lainnya. tatacara ini udah di wujudkan oleh baginda Rasulullah SAW, beliau tidak pernah bersikap antipati kepada mereka yang non muslim, bahkan beliau dengan sabar ketika ada seseorang yang tiap hari menaruh kotoran dijalan yang dilewati beliau, namun ketika kotoran itu tidak ada lagi beliau malah mencari orang tersebut, ternyata orang itu sedang sakit, dengan niat mulia nabi malah menjenguk dan membawakan buah tangan kepada org tersebut.
sebuah pohon jika telah memiliki akar yang kuat, batang yang kokoh daun dan ranting yang rindang tidak akan sempurnah manfaatnnya jika tidak memiliki buah. nah dalam konsep agama islam buah tersebut itulah AKHLAK… kamu harus yakin saudaraku bahwa setiap hati manusia dipegang oleh khalik yang maha kuasa, maka seorang yang sikapnya kurang kamu senangi itu sesungguhnya hatinya dipegang oleh ALLAH, mungkin saja sikapnya demikian itu karena ada rahasia lain dari ALLAH dibalik itu semua, ambil hikmahnya saja misalnya dengan sikapnya yang kurang menyenangkan tersebut kemudian kamu terpanggil menegaskan bahwa seorang muslim tidaklah harus frontal seperti itu, seorang muslim harusnya mencontohi baginda rasul dalam bertindak.
Saudaraku … setiap orang memiliki tugas untuk berdakwah, kamupun demikian.. jadikan kejadian di Bus tersebut sebagai motivasi buatmu mengenal bagaimana seharusnya muslim bersikap, bagaimana konsep damainya islam, bagaimana sikap rasullulah. dan bisa saja kejadian itu adalah takdir ALLAH agar kamu bisa lebih dalam merenungi dan mau mempelajari islam.insya ALLAH kamu mendapat hidayah dan meningkatkan jasbah keimananmu. AMIN Wasalam
Sdr/i lulu yg baik, jujur saja, saya juga terharu membaca komentar kamu. Meski sampai sekarang saya belum benar2 menemukan manfaat mempertahankan identitas islam, komentar sdr/i mengingatkan saya pada indahnya menjadi bagian dari komunitas muslim, yakni kerelaan untuk mengingatkan satu sama lain. Saya pikir kerelaan semacam itu pula yang membuat Islam disebut sebagai “rahmatan lil’alamin”. Terima kasih.