Arung & Ekstase

Free Will dan Problem Kejahatan

Ditulis dalam Uncategorized oleh Djohan Rady pada Oktober 19, 2010

I. The Virginian Man: Apakah Kita Benar-benar Memiliki Free Will?

Pada tahun 2003 Archives of Neurology menurunkan artikel mengenai sebuah kasus yang menarik.[1] Seorang laki-laki asal Virginia yang sebelumnya tidak pernah memiliki catatan criminal sama sekali tiba-tiba mulai mengoleksi materi pornografi anak-anak dan bahkan mencabuli putri tirinya yang baru berusia delapan tahun. Ketika kasusnya sedang memasuki masa sidang, perilaku seksual laki-laki tersebut semakin menjadi-jadi. Akhirnya, setelah sering mengeluh sakit kepala dan mengalami vertigo, laki-laki itu diperiksakan ke dokter dan menjalani pemindaian otak. Hasil pemindaian tersebut menunjukkan sebuah tumor besar tumbuh di area frontal otak, terutama di bagian septum dan hypotalmus, yang berperan besar dalam mempengaruhi perilaku seksual seseorang.

Setelah tumornya diangkat terbukti perilaku seksual laki-laki tersebut kembali normal. Beberapa bulan kemudian, ketertarikan laki-laki tersebut terhadap anak perempuan di bawah umur kembali kambuh dan hasil pemindaian otak yang kedua kalinya menunjukkan area frontal otaknya kembali dihinggapi tumor. Pengangkatan tumor yang kedua kalinya juga pada akhirnya kembali membuat perilaku seksual laki-laki itu ke dalam status normal.

Kasus ini berdampak besar bagi bidang philosophy of mind, khususnya wacana mengenai free will (kehendak bebas). Apakah manusia benar-benar memiliki free will? Jika pilihan tindakan seseorang sangat dipengaruhi oleh kondisi jasmaniahnya, masih patutkah kita berbicara mengenai kehendak bebas?

Dari domain philosophy of mind, dampak filosofis kasus ini kemudian merembet ke dalam ranah etika. Jika segala tindakan-tindakan kita bersifat deterministik, patutkah laki-laki asal Virginia itu dikenai tanggung jawab atas tindakan kriminalnya? Jika peran sosial kita lebih dipengaruhi oleh “bakat” ketimbang pilihan sadar kita sendiri, patutkah kita memberi hukuman bagi mereka yang “ketiban” peran sebagai sampah masyarkat?

Menjawab pertanyaan ini saya mengambil posisi afirmatif. Saya berpendapat setiap orang wajib mempertanggung jawabkan semua tindakan sosialnya kepada masyarakat. Evolusi sosial hanya akan berkembang sejauh manusia memberi limit dan sangsi bagi tindakan-tindakan yang merugikan orang banyak. Dengan kata lain, hidup bermasyarakat berarti hidup dalam tuntutan untuk mempertanggung jawabkan semua tindakan-tindakan yang berhubungan dengan orang lain.  Masalahnya sekarang: bagaimana merekonsiliasi tesis tersebut dengan kenyataan pahit mengenai determinisme, sebagaimana diperlihatkan dalam kasus The Virginian Man?

Jawaban atas persoalan tersebut bisa kita dapatkan jika pertama-tama kita mengubah pola pandang metafisis mengenai konsep free will terlebih dahulu. Pandangan klasik mengenai free will biasanya menempatkan kemampuan manusia untuk memilih suatu tindakan dari sekumpulan kemungkinan tindakan-tindakan lain sebagai karakteristik utama dari konsep free will. Pandangan klasik semacam ini saya tolak. Pada paper ini konsep free will lebih dekat maknanya dengan konsep self-control (pengendalian diri) sebagai sebuah kemampuan khusus yang dimiliki otak manusia.[2] Jadi, free will saya artikan sebagai kemampuan seseorang untuk menahan diri dari melakukan suatu tindakan yang disebabkan oleh hasrat-hasrat alamiah dalam dirinya.

Melalui definisi ini, kita tidak perlu lagi berdebat apakah manusia benar-benar memiliki kehendak bebas atau tidak. Setiap orang memiliki kehendak bebas selama orang tersebut bisa mengontrol tindakan-tindakan sadarnya. Oleh karena itu, tindakan The Virginian Man memperkosa anak di bawah umur juga merupakan objek tanggung jawab sosial, selama kita mengasumsikan bahwa tindakan tersebut dilakukan secara sadar.  Namun, sebelum masuk lebih jauh ke dalam pemaparan mengenai konsep free will sebagai self-control, ada baiknya kita telaah dulu argumen-argumen free will klasik yang berkaitan dengan problem kejahatan dan moralitas sosial.

 

II. Argumen Kebebasan Absolut: Free Will sebagai Pilihan Tanpa Sebab

Perdebatan yang ditimbulkan oleh kasus The Virginian Man, yakni apakah manusia benar-benar memiliki free will atau tidak, merupakan akibat tidak langsung dari paradigma dualistik jiwa-tubuh yang diwariskan Rene Descartes. Selama kita memahami entitas jiwa dan tubuh sebagai dua entitas yang terpisah, selama itu pula kita akan terjebak ke dalam perdebatan tak berujung mengenai kebebasan absolut dan determinisme. Bagaimana penjelasannya?

Bisa dibilang, hampir semua filsuf yang memegang teguh paradigma dualistik setuju bahwa pilihan bebas adalah pilihan yang tidak memiliki sebab (causal vacuum).[3] Setidaknya, walaupun tidak mengatakan causal vacuum, filsuf-filsuf tersebut membedakan sebab-sebab terjadinya suatu kejadian atau tindakan menjadi dua: causal natural dan causal agen.

Causal natural lebih gampang dipahami sebagai hukum sebab-akibat. Jika saya menjatuhkan pulpen yang saya pegang ke tanah, maka bisa saya simpulkan bahwa jatuhnya pulpen tersebut adalah akibat dari gaya gravitasi yang menarik pulpen itu. Kejadian-kejadian yang disebabkan oleh sebab-sebab alamiah seperti itu merupakan kejadian yang deterministik. Sekuens dari kejadian tersebut terikat oleh hukum-hukum alam.

Tapi jika kita selidiki lebih lanjut mengapa saya menjatuhkan pulpen tersebut ke tanah, jawaban paling akhir dari penelusuran tersebut akan berakhir pada kehendak bebas saya. Lalu, dari mana datangnya kehendak bebas tersebut? Banyak jawab bisa diajukan. Tapi, untuk kasus ini cukup kita katakan bahwa free will merupakan domain res cogito dan tidak bisa dikalkulasi secara saintifik layaknya gravitasi. Pilihan saya untuk menjatuhkan atau tidak menjatuhkan pulpen itulah yang disebut sebagai causal agen. Akibat kentalnya pengaruh pilihan bebas, sekuens dari kejadian yang diilhami oleh free will tidak bisa diprediksi dan dikalkulasi secara pasti.

Melalui distingsi semacam ini, para dualis ingin menegaskan keistimewaan posisi free will dalam kehidupan manusia. Para dualis seolah-olah ingin mengatakan bahwa manusia memiliki otonomi penuh atas masa depan hidupnya. Mereka yang secara ekstrem memegang teguh prinsip dualisme ini bahkan menegasikan sama sekali peran biologis manusia dalam menentukan pilihan-pilihannya.

Oleh sebab itulah paradigma dualisme ini rentan terhadap perdebatan tak berujung jika ditemukan bukti-bukti empiris mengenai determinisme dan ketidakbebasan manusia dalam menentukan tingkah lakunya. Konsekuensinya, kita akan kesulitan untuk menentukan posisi etis ketika berhadapan dengan kasus-kasus konkret semacam The Virginian Man. Para dualis ekstrem akan cenderung menjadikan The Virginian Man sebagai objek tanggung jawab moral secara dilematis mengingat rekam jejak hidupnya yang bersih sebelum mengidap tumor.

 

III. Determinisme Keras: Keniscayaan Sufficient Reason

Determinisme bisa muncul dalam berbagai bentuk. Pemahaman paling klasik dari determinisme biasanya melibatkan konsep sufficient reason (alasan yang mencukupi) bagi sebuah kejadian untuk terjadi. Sebuah kejadian mesti mendahului kejadian berikutnya. Dengan kata lain, setiap kejadian di muka bumi ini selalu terikat oleh sebuah hukum sebab-akibat dan, oleh sebab itu, deterministik.

Tapi kemudian, bagaimana halnya dengan tindakan dan pilihan-pilihan bebas manusia? Bukankah tindakan sadar manusia merupakan sebab pertama dari konsekuensi tindakan-tindakan itu sendiri (dengan mengecualikan peranan Tuhan)? Bagi kaum determinis, setidaknya pilihan bebas manusia sangat tergantung pada dua sufficient reason: kondisi psikologis dan neurobiologis.

Banyak kasus yang menunjukkan kondisi psikologis sangat mempengaruhi tindakan seseorang. Contoh paling jelas dapat kita lihat pada kasus drug addict. Seorang pecandu narkotik mempunyai kecenderungan psikologis untuk terus menerus mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Kecenderungan ini biasanya dialami dalam keadaan sadar, hanya saja sang pecandu itu tidak memiliki kekuasaan penuh untuk mengontrol hasratnya dalam mengkonsumsi obat-obatan tersebut. Terkait dengan permasalahan free will, dapatkah kita katakan bahwa semua tindakan-tindakan kita (baik yang disadari maupun yang tidak) dipengaruhi oleh kondisi psikologis semacam itu? Masuk akalkah untuk mengatakan bahwa kegiatan saya menulis paper ini merupakan konsekuensi dari suasana kejiwaan yang tidak saya sadari dan oleh sebab itu bukan eksekusi dari kehendak bebas saya?

Selain kondisi psikologis, determinisme juga menemukan sandaran argumennya pada kondisi neurobiologis manusia. Bahkan menurut John Searle, argumen neurobiologis merupakan permasalahan paling serius dalam diskursus kehendak bebas.[4] Sederhananya, determinsime neurobiologis menyatakan semua tindakan dan pilihan sadar manusia sangat tergantung oleh kondisi neuron di dalam otak. Bahkan kondisi psikologis yang tadi kita asumsikan dapat menjadi sufficient reason pun sangat dipengaruhi oleh mekanisme syaraf otak. Mengingat sifatnya yang materialistik, determinisme neurobiologis sulit untuk dibantah mengingat materi (yakni neuron dan mekanisme otak) merupakan sebab langsung dari tindakan sadar manusia. Kasarannya, argumen determinisme neurobiologis tidak menyediakan gap antara causal natural dan causal agent.

Kasus The Virginian Man adalah contoh yang ekstrem dari determinisme neurobiologis semacam itu. Seseorang yang “normal-normal” saja tiba-tiba bisa berperilaku menyimpang ketika kondisi dan mekanisme syaraf otaknya ikut berubah. Apakah semua perilaku dan tindakan manusia juga dipengaruhi oleh kondisi jasmaniah semacam itu? Bagi kaum determinis jawabannya adalah “ya”. Manusia sama sekali tidak memiliki otonomi khusus terhadap pilihan-pilihan sadarnya. Disadari maupun tidak, pilihan tersebut tergantung pada kondisi neuron yang terdapat di dalam otak masing-masing orang.

 

IV. Kompatibilisme: Free Will Sebagai Mekanisme Self-Control

Argumen kebebasan absolut dan determinisme keras berangkat dari asumsi ontologis yang jauh berbeda. Yang satu mengandaikan dualisme jiwa-tubuh, sedangkan yang satu lagi memahami realitas sebagai monisme materialistik. Kedua paham ini berimplikasi pada absolutisme pemahaman terhadap konsep free will. Para dualis menganggap free will mutlak ada, sedangkan para materialis menganggapnya sebagai fitur yang ilusif.

Pertentangan gagasan ini memiliki implikasi yang kompleks pada ranah aplikasi. Apalagi ketika manusia mulai ditempatkan sebagai subjek moral. Relativisme konsep free will bagi penganut dualisme cartesian merupakan bencana sosial: manusia bisa terhindar dari tanggung jawab moral dengan dalih tindakan-tindakannya merupakan konsekuensi tidak langsung dari sebab-sebab yang tak diniatkan. Di sisi lain, pemahaman dualisme itu semakin terdesak oleh bukti-bukti konkret atas keberadaan sebab-sebab yang tak diniatkan tersebut. Bagaimana solusinya ?

Pertama-tama, mari kita ubah paradigma lama mengenai free will yang metafisis (free will sebagai causal vacuum, causal agent, dsb.) menjadi sebuah konsep yang lebih materialistik. Salah satu penyebab dilema moral ketika berhadapan dengan kasus seperti The Virginian Man adalah konsep free will yang terlalu mengawang-awang, yang kemudian berakibat pada ketidakmungkinan untuk “mengukur” niat jahat pelakunya. Melalui perubahan paradigma cogitans menjadi materialisme, kesulitan-kesulitan semacam itu dapat diminimalisir.

Patricia Smith Churchland pernah menawarkan pemahaman yang lebih segar mengenai free will, yakni menempatkan free will sebagai fitur neurologis yang disebut sebagai self-control. Memahami free will sebagai mekanisme self-control berarti memahami pilihan bebas manusia sebagai kemampuan sadar untuk menahan diri dari kecenderungan-kecenderungan determinisme biologis.

Meski penelitian mengenai mekanisme neurologis atas self-control ini belum begitu berkembang, dapat dipastikan bahwa kemampuan semacam itu berkembang seiring dengan perkembangan otak seseorang: seorang bayi ‘memilih’ untuk menghisap alih-alih menggigit puting ibunya, atau ‘memilih’ untuk menjauh dari benda panas ketimbang menyentuhnya, dan lain-lain. Karakteristik yang sama bahkan dapat kita temukan pada perilaku binatang: seekor anjing rumahan tahu kapan harus mengambil makanannya berdasarkan pertimbangan punish and reward. Hal ini menunjukkan mekanisme self-control dapat ditemukan pada sebagian besar struktur otak mamalia tingkat lanjut.

Asumsi neurologis seperti itu masuk akal, mengingat kemampuan adaptif manusia dapat kita telusuri asal-usulnya pada prefrontal cortex yang berada di otak tengah. Selain itu, berbagai fitur lain seperti sensitivitas terhadap konsep punish and reward, responsivitas rasa takut oleh syaraf-syaraf amygdala, atau respon decisionistic yang berasal dari area cortex parietal, semakin memperkuat asumsi tersebut.

Penemuan-penemuan semacam itu memberikan kita keyakinan bahwa pada akhirnya mekanisme self-control bisa dipahami lewat bidang neurobiologi. Dengan kata lain: misteri konsep free will akan tersingkap melalui jalur empirisisme garis keras.

Namun harapan saintifik semacam ini harus ditebus dengan harga mahal: mekanisme neurologis rentan terhadap kelemahan-kelemahan yang dimiliki segala macam bentuk pemahaman biologis, yakni perubahan materi. Pada beberapa kasus memang ditemukan di mana mekanisme self-control tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Kasus yang paling jelas terlihat pada orang yang mengalami obsesif-kompulsif terhadap kebersihan. Pada kasus seperti ini mekanisme self-control tidak berfungsi menahan hasrat orang itu untuk mencuci tangannya berkali-kali. Kasus serupa juga berlaku bagi penderita tourette syndrome, di mana penderitanya tidak bisa mengendalikan apa yang dia ucapkan.

Meskipun begitu, dengan mereduksi pemahaman free will menjadi begitu materialistik, setidaknya kita telah membuka kemungkinan untuk meneliti perilaku sadar seseorang secara lebih objektif. Dengan mereduksinya kepada materialisme, kita telah menyingkirkan beban metafisis yang tak perlu dari konsep free will.

 

V. Kesimpulan

Apakah The Virginian Man bersalah? Perlukah ia mempertanggung jawabkan tindakan kriminalnya? Bahkan dengan pemahaman free will sebagai self-control pun kita tidak bisa terburu-buru mengambil keputusan. Kita harus memeriksa dulu apakah kemampuan self-control The Virginian Man juga menghilang akibat tumor tersebut atau tidak. Jika ia masih bisa mengontrol perilaku seksualnya (sebesar apa pun hasrat tersebut), maka kita bisa memutuskan ia bersalah. Namun, kita harus memutuskan sebaliknya jika mekanisme self-control pada otaknya ternyata ikut terganggu.

Satu hal yang pasti, melalui reduksionisme materialistik, kita terhindar dari perdebatan tak berujung mengenai eksistensi ontologis dari free will. Kita tidak perlu lagi menghabiskan tenaga untuk menelusuri sesuatu yang tidak bisa kita lacak asal usulnya.

Sudah menjadi kebiasaan dalam tradisi hukum legal-positivistik untuk menentukan tolak ukur yang jelas sebagai asumsi dugaan seseorang telah melanggar nilai-nilai di dalam masyarakat. Seperti para polantas yang bisa menentukan kadar alkhohol dalam aliran darah seorang pengemudi mobil, para aparatus hukum juga mesti bisa menyelidiki apakah The Virginian Man (dan banyak kasus anomali-anomali lain) masih memiliki kemampuan self-control dalam dirinya atau tidak. Dari situ kita bisa memberi keputusan secara lebih rasional dan objektif. Dari sudut pandang yang lebiih pragmatis, meninggalkan paradigma metafisis dan beralih pada materialisme jauh lebih berguna ketimbang tetap berkutat pada pertanyaan “apakah kita benar-benar memiliki kehendak bebas?”. []

 

Referensi

Searle, John R. 2004. “Mind: A Brief Introduction”. Oxford: Oxford University Press.

Kane, Robert. 2005. “A Contemporary Introduction to Free Will”. Oxford: Oxford University Press.

Archives of Neurology, “Right Orbitofrontal Tumor with Pedophilia Symptom and Constructional Apraxia Sign”, Volume 60, issue 3, 2003.

Patricia Smith Churchland, 2006. “The Big Question: Do We Have Free Will?”. Dalam New Scientist magazine, issue 2578: 18 November 2006, hlm: 42 – 45.

 

 

 

 


[1] Lih. Archives of Neurology, “Right Orbitofrontal Tumor with Pedophilia Symptom and Constructional Apraxia Sign”, Volume 60, issue 3, 2003.

[2] Lih. Patricia Smith Churchland, 2006. “The Big Question: Do We Have Free Will?”. Dalam New Scientist magazine, issue 2578: 18 November 2006, hlm: 42 – 45.

[3] Lih. John R. Searle, 2004. “Mind: A Brief Introduction”. Oxford: Oxford University Press. Hlm. 216 – 219.

[4] Ibid. Hlm. 226.

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.