Arung & Ekstase

Bias Konfirmasi

Posted in Uncategorized by Djohan Rady on Juli 3, 2014

Bunga adalah seseorang yang sangat percaya dengan ramalan astrologi. Pada suatu hari Bunga membaca ramalan di suatu majalah bahwa hari ini akan menjadi hari sialnya. Akibatnya, pagi itu Bunga memulai aktivitasnya dengan perasaan was-was. Betul saja: baru saja keluar kompleks perumahan, Bunga sudah terjebak macet. Sesampainya di kantor, Bunga dimarahi oleh atasannya karena datang terlambat. Lebih parah lagi, saat Bunga baru akan mengerjakan proposal proyek yang sangat penting, komputer tuanya tiba-tiba rusak total. “Terbukti sudah,” pikirnya, “hari ini adalah hari sial sebagaimana diramalkan oleh majalah”.

Tanpa disadari, pada saat itu Bunga sudah terjebak oleh kesalahan berpikir (cognitive error) yang disebut sebagai bias konfirmasi. Bias konfirmasi adalah induk dari segala bentuk kesalahan berpikir. Bias konfirmasi terjadi ketika kita cenderung mengabaikan fakta yang berlawanan dengan kepercayaan kita dan hanya mau menerima bukti-bukti yang mengkonfirmasi kepercayaan tersebut.

Pada kasus Bunga, sudah jelas bahwa Bunga sangat mempercayai ramalan yang ia baca. Berdasarkan kepercayaan itu, proses kognisi Bunga kemudian mulai menyaring fakta-fakta yang sesuai dengan kepercayaan bahwa “hari ini akan menjadi hari sial”, misalnya: terjebak macet, dimarahi atasan, dan komputer rusak. Namun pada saat yang bersamaan proses seleksi ini juga menyingkirkan fakta-fakta lain yang dapat membatalkan kepercayaan tersebut, misalnya: bahwa Bunga terjebak macet hampir setiap hari, bahwa atasannya memang terkenal temperamental, dan bahwa kondisi komputernya memang sudah tua.

Pada kenyataannya manusia memang secara alamiah cenderung mempertahankan kepercayaan ketimbang mengoreksinya. Mengakui bahwa apa yang kita yakini selama ini salah merupakan suatu aktivitas kognitif yang menyakitkan. Oleh karena itu bias konfirmasi rentan terjadi pada segala bentuk kepercayaan: kepercayaan saintifik, kepercayaan relijius, kepercayaan ideologis, dan, tentu saja, kepercayaan terhadap tokoh politik yang kita dukung dan idolakan.

Di tengah hiruk-pikuk dan euforia pemilu presiden, warga Indonesia, khususnya yang kerap berinteraksi di media sosial, rentan sekali terkena bias konfirmasi. Kedua kubu pendukung capres saling bertukar ejek dan hujat tanpa sedikit pun mempertimbangkan objektifitas pesan yang disampaikan.

Para pendukung Joko Widodo, misalnya, seringkali menghujat kubu Prabowo terkait kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia. Para penghujat itu seolah abai dengan kenyataan bahwa di belakang tim sukses Jokowi juga bersarang nama-nama yang terindikasi sebagai pelanggar HAM kelas berat. Begitu juga para pendukung Prabowo seringkali menghujat prestasi-prestasi Jokowi sebagai ajang pencitraan, seolah-olah tanpa menyadari bahwa Prabowo justru kandidat yang paling banyak di-beking oleh konglomerasi media.

Bias konfirmasi merupakan bias kognitif yang paling fatal karena dapat membuat pengidapnya melihat realitas secara keliru. Apa yang sesungguhnya salah dapat dianggap benar, dan apa yang sesungguhnya benar dapat dianggap sebagai kesalahan. Kekeliruan ini timbul karena harapan dan fantasi kita akan sesuatu dianggap lebih penting ketimbang kebenaran objektif.
Lebih parah lagi, bias konfirmasi dapat mendorong seseorang menciptakan “realitas buatan”. Realitas buatan adalah kenyataan yang dicocok-cocokkan dengan kepercayaan dan harapan subjektif seseorang. Pada kasus pendukung capres, realitas buatan itu muncul dalam bentuk fitnah dan propaganda. Orang-orang secara halus menyebutnya sebagai kampanye hitam.

Lalu bagaimana cara menghindari bias konfirmasi?

Pertama dan utama, kita harus belajar untuk lebih bersikap skeptis terhadap kepercayaan kita sendiri. Menjadi skeptis bukan berarti tidak memiliki kepercayaan atau opini terhadap apa pun. Seorang skeptis adalah seseorang yang berupaya menunda kesimpulan demi datangnya bukti-bukti baru. Sebagaimana dikatakan penulis Perancis Denis Diderot, skeptisisme justru merupakan langkah awal menuju kebenaran. Semakin lama kita menunda kesimpulan, semakin dekat pula kita dengan kebenaran yang sesungguhnya.

Permasalahannya, penduduk Indonesia sejak kecil tidak pernah dididik untuk menghargai proses menunda kesimpulan. Bentuk ujian di sekolah menuntut siswa untuk menjawab persoalan secepat mungkin. Mereka seolah tidak pernah diajari bahwa di dalam proses pencarian kebenaran, yang terpenting bukan ditemukannya jawaban, tetapi justru merumuskan pertanyaan mengenai persoalan itu sendiri.

Tidak mengherankan akhirnya jika masyarakat kita menjadi begitu fanatik dan cupet. Selama masyarakat masih dididik untuk menjadi Wikipedia, selama itu pula masyarakat kita masih rentan mengidap bias konfirmasi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: